IMM Fakultas Agama Islam UAD

Melawan Kapitalisme Sebagian dari Iman

NEGARA DAN PEMERINTAHAN DALAM ISLAM

Posted by immfaiuad pada Februari 6, 2008

NEGARA DAN PEMERINTAHAN DALAM ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

ISLAM AGAMA RAHMAT

 

Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya, sejak Adam a.s. hingga yang terakhir Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk disampaikan kepada umat manusia, sebagai pedoman hidup yang menjamin akan mendatangkan kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

QS Asy Syura (42): 13 mengajarkan, “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, yaitu, ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kaum seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).’”

Dari ayat Alquran tersebut diperoleh penegasan tentang adanya kesatuan risalah yang dibawa oleh Rasul Allah. Kedatangan para Rasul Allah silih berganti untuk menyampaikan ajaran agama yang bersumber kepada wahyu Allah. Dengan demikian, Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah mata rantai terakhir dari agama Allah yang diwahyukan kepada para rasul sebelumnya. Sebagai mata rantai terakhir, Islam yang dibawakan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, merupakan agama Allah yang telah disempurnkan-Nya dan dinyatakan-Nya sebagai nikmat paling sempurna dan agama yang diridhai-Nya untuk menjadi pedoman hidup seluruh umat manusia sepanjang masa hingga datangnya hari akhir kelak.

QS Al Ahzab (33): 40 mengajarkan, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
QS Al Maidah (5): 3 mengajarkan, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kupenuhi untuk kamu nikmat-Ku dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagimu.”

Sebagai agama yang telah disempurnakan dan merupakan mata rantai teakhir agama Allah, dan diperuntukkan bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman, Islam memberikan pedoman hidup kepada umat manusia secara menyeluruh meliputi segala aspeknya, badaniah dan rohaniah, duniawi dan ukhrawi, perorangan dan masyarakat. Islam memberikan pedoman hidup dalam bidang-bidang akidah, ibadah, dan muamalah.QS A Baqarah (2): 177 mengajarkan, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian; akan tetapi, sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada: Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada: kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukanm pertolongan (ibnussabil) dan orang-orang yang minta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya; mendirikan salat; mnunaikan zakat; menepati janjnya apabila mereka bejanji; dan bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Demikianlah sebuah ayat Alquran yang mencerminkan sifat menyeluruhnya ajaran-ajaran Islam, mencakup ajaran dalam bidang akidah, ibadah, akhlak, dan muamalat.
Secara agak terinci dapat dinukilkan beberapa ayat Alquran yang memberi pedoman hidup kepada umat manusia dalam bidang tersebut di atas.

1. Bidang akidah diperoleh pedomannya di dalam sebagian besar ayat-ayat Alquran sebab bidang ini merupakan bidang yang fundamental dalam hidup manusia, yang melandasi segala tindakan manusia dalam hidupnya agar mempunyai nilai di hadirat Allah swt.

QS An Nisa’ (4): 136 mengajarkan, “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab-kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari Kemudian, sesungguhnya orang itu sesat sejauh-jauhnya.”

QS Lukman (31): 13 mengajarkan, “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) benar-benar kelaliman yang besar.’”

QS Al Maidah (5): 73 mengajarkan, “Sesungguhnya, kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga. Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”

2. Bidang ibadah yang merupakan rangkaian tidak terpisahkan dari akidah juga terdapat pedomannya di dalam banyak ayat Alquran.

QS Al Baqarah (2): 21 mengajarkan, ”Hai manusia beribadahlah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.”
QS Al A’raf (7): 59 mengajarkan, ”Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu berkata, ’Wahai kaumku beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya; ssungguhnya (jika kamu tidak beribadah kepada Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (Kiamat).’”

QS Al A’raf (7): 65 mengajarkan, ”Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka Hud. Ia berkata, ’Hai kaumku, beribadahlah kamu kepada Allah; sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya…’”

QS Al A’raf (7): 85 mengajarkan, ”Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka Syu’aib, Ia berkata, ’Hai kaumku, beribadahlah kamu kepada Allah; sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya…’”
Dari ayat-ayat Alquran tersebut di atas dapat kita ketahui betapa eratnya kaitan antara akidah dan ibadah. Akidah yang mengajarkan tauhid, bertuhan hanya kepada Allah, membuahkan peribadatan yang hanya tertuju kepada Allah semata-mata.

Beberapa bentuk ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji diberikan pedomannya dalam banyak ayat Alquran.

QS Al Baqarah (2): 110 memerintahkan, ”Dan dirikanlah salat dan tunaikan zakat.”

QS Thaha (20): 14 mengajarkan, ”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, beribadahlah kepada-Ku dan dirikanlah salat mengingat Aku.”

QS Al ’Ankabut (29): 45 mengajarkan, ”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Alquran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) lebih besar (keutamannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
QS Al Taubah (9): 103 mengajarkan, ”Ambllah zakat dari sebagian mereka, Sesungguhnya, doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
QS Al Baqarah (2): 183 memerintahkan, ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibklan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

QS Ali Imran (3): 97 mengajarkan, ”…mengerjakan haji bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

3. Bidang akhlak yang dapat dinyatakan sebagai hasil dari iman dan ibadah mempunyai kedudukan amat penting dalam Islam.
Nabi Muhammad saw. dalam hadis riwayat Malik mengatakan, ”Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik.” Dalam riwayat Al Bazzar disebutkan, ”Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.”
Dalam hadis Nabi diajarkan juga, ”Sesuatu yang paling berat timbangannya di akhirat kelak adalah takwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik.”

QS Al Qalam (68): 4 memuji Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam karena akhlaknya yang baik, ”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

QS An Nahl (16): 90 mengajarkan, ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat; dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu ingat.” ayat Alquran ini dapat dipandang sebagai pedoman induk dalam bidang akhlak.

QS Al Hujurat (49): 11 mengajarkan, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) itu, lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita yang diolok-olokkan itu lebih baik daripada wanta-wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (antara sesama mukmin karena orang-orang mukmin seperti satu badan) dan janganlah pula kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruknya panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang lalim.”
Bidang muamalah yang meliputi segala macam bentuk pergaulan hidup bermasyarakat, diperoleh pedomannya dalam banyak ayat Alquran, sejak dari kehidupan berkeluarga, bertetangga, bernegara, berekonomi hingga berhubungan antarnegara.

Kehidupan berkeluarga diperoleh pedomannya dalam Alquran di berbagai ayat, misalnya dalam QS Ar Rum (30): 21 diajarkan, ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

QS An Nur (14): 32 mengajarkan, ”Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Perihal waris mewaris antara keluarga, QS An Nisa’ (4): 7 mengajarkan, ”Bagi orang-orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya dan bagi orang perempuan ada hak bagian (pula) dari peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.”

a. Kehidupan bertetangga diperoleh pedomannya dalam QS An Nisa’ (4): 36 yang mengajarkan, ”Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, teman sejawat, ibnussabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

Memasuki rumah orang lain pun diatur dalam QS An Nur (24): 27-28 yang mengajarkan, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, janganlah kaum masuk sebelum kamu mendapat izin dan jika dikatakan kepadamu ’Kembali (sajalah),’ hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

b. Kehidupan bernegara diperoleh pedomannya dalam banyak ayat Alquran.
QS An Nisa (4): 58 mengajarkan, ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi maha melihat.”

Yang dimaksud dengan menetapkan hukum dalam ayat ini ialah memutuskan hukum dalam pengadilan, dan pengadilan merupakan salah satu bagian dari kekuasaan kenegaraan.

QS An Nur (24): 2 mengajarkan, ”Bagi perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, deralah tiap-tiap orang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir, dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman.” Ayat ini memberi ketentuan hukuman bagi perbuatan pidana zina yang hanya dilaksanakan oleh penguasa, tidak oleh perorangan.

QS An Nisa’ (4): 59 ”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (Sunahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” Yang dimaksud dengan ulil amri dalam ayat ini ialah orang-orang yang memperoleh kepercayaan memimpin masyarakat, termasuk di dalamnya penguasa negara.

c. Kehidupan berekonomi diperoleh pedomannya dalam banyak ayat Alquran, antara lain pada QS An Nisa’ (4): 29 yang megajarkan, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.”
QS Ali Imran (3): 130 mengajarkan, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya mendapat keberuntungan.”

d. Kehidupan berhubungan antarnegara diperoleh pedomannya dalam beberapa ayat Alquran antara lain pada QS Al Hajj (22): 39-40 yang mengajarkan, ”Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ’Tuhan kami hanyalah Allah.’ Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang-orang Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut-sebut asma Allah. Sesunggunya Allah pasti menolong orang yang menolong agma-Nya, dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” Ayat ini memberi penegasan bahwa motif perang dalam Islam ialah untuk membela diri dari penganiayaan dari kampung halaman, hanya karena orang menyatakan diri menganut agama Islam.

QS Al Maidah (5): 2, memberi pedoman umum yang merupakan asas hubungan antarnegara, ”Dan tolong-menolnglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” Ayat ini mengajarkan asas kerjasama kemanusiaan, termasuk berhubungan antarnegara.

Memperhatikan ajaran Islam yang menyeluruh itu dapat kita katakan bahwa Islam merupakan sistem hidup menyeluruh. Bidang-bidang ajaran Islam yang satu dapat dibedakan dari yang lain, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan satu dari yang lain.
Islam yang memberikan pedoman hidup yang bersifat menyeluruh itu menegaskan pula bahwa ajaran-ajaran yang dibawakannya merupakan ajaran Allah kepada jalan hidup yang cerah, sebagaimana dinyatakan dalam QS Ibrahim (14): 1 yang mengajarkan, ”Alif laam raa. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadakamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan yang Mahakuasa lagi Maha Terpuji.”

QS Al Baqarah (2): 201-202 mengajarkan, ”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ”Ya Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat kebahagiaan dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” Ayat ini mengajarkan manusia hendaklah berusaha memperoleh kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Jangan hanya berusaha mendapatkan kebahagiaan di dunia tanpa memperhatikan akhirat, dan jangan juga hanya berupaya meraih kebahagiaan di akhirat tanpa memperhatikan dunia.

Orang tidak boleh lupa bahwa justru di dunia inilah dapat dilakukan banyak kewajiban yang akan dipetik hasilnya di akhirat kelak. Dunia ini merupakan jembatan menuju akhirat.

QS Al Qashash (29): 77 mengajarkan, ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan.” Ayat ini memperingatkan agar segala yang telah diberikan Allah kepada kita, kita pergunakan dengan cara yang akan mendatangkan kebahagiaan di akhirat, tetapi jangan sampai tidak mengambil bagian sama sekali kenikmatan hidup di dunia, selagi masih dalam batas-batas yang tidak melanggar ketentuan agama.

Melaksanakan asas kehidupan dalam keseimbangan diajarkan dalam banyak ayat Alquran. Sejalan dengan kodrat kejadiannya yang terdiri dari unsur-unsur jasmani dan rohani, manusia berkedudukan sebagai diri pribadi, tetapi dalam waktu sama juga sebagai anggota masyarakat dan dikodratkan hidup di dunia menuju kepada akhirat.

Keseimbangan dalam memenuhi berbagai macam kepentingan itu diajarkan sejalan dengan fitrah manusia, pembawaan kodrat kejadian manusia sendiri. Atas dasar inilah, Islam sering disebut sebagai agama fitah, agama yang memenuhi tuntutan fitrah manusia.
QS Ar Rum (30): 30 mengjarkan, ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Sebagai agama fitrah, Islam memperhatikan kenyataan-kenyataan manusiawi. Di samping memiliki sifat pembawaan kodrat selalu rindu kepada nilai-nilai luhur yang ideal, manusia juga mempunyai sifat pembawaan kodrat berupa kelemahan dalam menghadapi berbagai macam realita dalam hidup di dunia ini. Dalam hubungan ini QS An Nisa’ (4): 28 mengajarkan, ”Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”

Atas dasar adanya sifat lemah sebagai pembawaan kodrat manusia itu, QS Al Baqarah (2): 185 diajarkan pula, ”Allah menghendaki kemudahan bagimu an tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

QS Al Hajj (22): 78 mengajarkan juga, “…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”

Sesuai dengan sifatnya yang merupakan mata rantai terakhir dari agama Allah yang diwahyukan kepada para rasul-Nya, agama Islam diperuntukkan bagi seluruh umat manusia sepanjang masa, memberikan pedoman hidup yang menyeluruh, menjamin akan mendatangkan kesejahteraan di akhirat, serta selalu mempehatikan kenyataan-kenyataan manusiawi dalam menghadapi realita hidup di dunia. Maka, sebenarnya Islam adalah agama rahmat, sebagaimana dinyatakan dalam QS Al Anbiya’ (21): 107, “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad). Melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

ISLAM AGAMA DAKWAH

Sebagai agama rahmat, Islamwajib didakwahkan kepada umat manusia dimanapun mereka berada agarmanusia memperoleh petunjuk Allah, demi kebahagiaan manusia sendiri di dunia dan di akhirat nanti.

QS An Nahl (16): 125 memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw., “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Perintah berdakwah yang dalam ayat tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad, juga merupakan perintah kepada umat Islam sampai akhir zaman.

QS Yusuf (12): 108 mengajarkan, “Katakanlah ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikuti mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata; Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.’” Dalam ayat ditegaskan bahwa yang mengajarkan agama Allah itu tidak hanya Nabi Muhammad sendiri, tetapi juga orang-orang yang mengikuti ajaran-ajarannya.

QS Fushshilat (41): 33 mengajarkan, “Siapakah yang lebih baik pekataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah mengerjakan amal saleh dan berkata, ‘Sesungguhnya, aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’ ” Ayat ini mengaskan bahwa menyeru kepada agama Allah dan berbuat amal saleh serta mantap menyatakan diri sebagai orang muslim adalah hal yang mulia, bahkan merupakan kewajiban setiap muslim.

QS Ali Imran (3): 104 memerintahkan, “Dan hendaklah di antara kamu segolongan orang yang umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah yang beuntung.” Ayat ini memerintahkan agar di antara umat Islam ada yang memusatkan kegiatan mereka dalam bidang dakwah menawarkan kebenaran Islam sebagai agama rahmat kepada siapapun.

Dalam rangka melaksanakan perintah menyerukan agama Islam, Nabi Muhammad saw. tidak hanya berseru kepada umat bangsanya, tetapi juga berseru kepada Heraklius, Kaisar Romawi Timur, kepada Mukaukis, Kepala Kaum Kristen Koptik, kepada Nagus, Raja Habsyi, juga kepada Abrawiz, Raja Persia, dan lain-lain.

Seruan kepada mereka itu dilakukan dengan mengirimkan surat. Surat yang disampaikan kepada Heraklius berbunyi, “Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad bin Abdullah Rasul Allah, kepada Heraklius Kaisar Rum. Assalamu’alamanittaba’ al-huda (Kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk Allah). Amma ba’du, terimalah agama Islam, pasti Allah akan memberikan pahala kepada tuan dua kali. Kalau tuan menolak, dosa orang-orang dari Akari (Ariasi) adalah menjadi beban tuan. Hai ahli kitab, marilah percaya kepada satu kalimat/ketetapan yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, yaitu tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orangyang berseah diri (kepada Allah).”Surat Nabi kepada Abrawiz, Raja Persia mengatakan, “Dari Muhammad Rasul Allah kepada Raja bangsa Persia. Kesejahteraan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Saya berseru kepadamu untuk menerima seruan Allah ‘Azza wa jalla. Saya adalah Rasul Allah kepada umat manusia semuanya dan bertugas untuk menyampaikan peringatan kepada orang yang hidup (hatinya), dan pastilah Allah akan menimpa orang-orang kafir. Masuklah Islam, kau pasti selamat. Jika engkau menolak, dosa orang majusi dibebankan kepadamu.”

Dua buah contoh surat Nabi Muhammad tersebut meyakinkan kepada kita bahwa berseru kepada agama Islam tertuju kepada siapapun, sampaipun kepada orang yang telah beragama.

Dalam dua surat Nabi itu kita dapat kata-kata yan perlu dijelaskan, yaitu yang menyangkut pembebanan dosa orang-orang Arisi atas Kaisar Heraklius dan dosa orang-orang Majusi atas Kaisar Abrawiz. Pembebanan dosa itu terjadi oleh karena pada masa dahulu, bahkan juga sekarang, keagamaan rakyat pada umumnya hanya mengikuti keagamaan raja atau kaisar. Dengan demikian, apabila raja atau kaisar itu menolak seruan masuk Islam, rakyat pun akan menolaknya. Maka, atas dasar raja atau kaisar memberi teladan menolak kebenaran Islam itulah, mereka dibebani dosa rakyatnya yang mengikuti jejaknya.

Menurut ajaran Islam, menyeru kepada agama Islam yang menjadi kewajiban umat Islam itu, jika kemudian menghadapi rintangan-rintangan bersenjata, untuk mengatasinya umat Islam dibenarkan mematahkan rintangan itu dengan kekuatan senjata pula. Hal inilah yang sering kurang dimengerti oleh juru tafsir sejarah mengenai penyebaran agama Islam yang beriring dengan terjadinya peperangan-peperangan. Tafsiran yang simpatik telah dikemukakan oleh salah seorang orientalis Sir Thomas W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam, yang menyatakan bahwa watak penyebaran Islam adalah dengan cra damai, seperti yang terjadi di India dan Kepulauan Melayu. Peperangan hanya terjadi apabila penyebaran agama Islam itu dihadapi dengan rintangan-rintangan bersenjata, seperti yang terjadi di Persia, daerah Kekaisaran Romawi dan sebagainya.

MANUSIA DALAM ISLAM

Agama Islam yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia sepanjang masa itu mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Ayat-ayat Alquran yang mula-mula diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. antara lain menegaskan, “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS Al Alaq (96): 2)

QS At Tiin (95): 4 mengajarkan, “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” QS Al Mukminun (23): 12 mengajarkan juga, “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”

Allah Yang Maha Bijaksana menciptakan manusia tidak sia-sia tetapi bertujuan. QS Al Mukminun (23): 115 mengajarkan, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesunguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak kan dikembalikan kepada kami?” QS Al Qiyamah (75): 36 mengajarkan juga, “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban?).” Secara mendasar fungsi diciptakan manusia disebutkan dalam QS Adz Dzariat (51): 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Kedudukan manusia dinyatakan dalam QS Al Baqarah (2): 30 yang mengajarkan, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat,’SesungguhnyaAku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi… ’” Fungsi manusia dinyatakan pula dalam QS Hud (11): 61 yang mengajarkan, “Dan kepada Tsamud, kami utus saudara mereka Saleh. Saleh berkata, ‘Hai kaumku, ’”ibadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Tuhan telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. Karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudia bertobat kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”
Dari tiga ayat terakhir di atas dapat diperoleh tiga sebutan bagi manusia, yaitu manusia sebagai makhluk beibadah, sebagai khalifah, dan sebagai pemakmur bumi.
Tiga macam sebutan manusia itu dapat ditafsirkan sebagai berikut. Manusia sebagai pemakmur bumi berkedudukan sebagai pelaksana kehendak Allah yang menciptakan bumi. Sebagai pelaksana kehendak Allah, manusia diberi kehormatan dengan julukan khalifah (pengganti, wakil). Dalam melaksanakan kehidupan di dunia itu, manusia melaksanakan kebaktian kepada Allah yang menciptakannya. Peribadahan kepada Allah itu mengandung dua unsur esensial, yaitu taat patuh dan cinta kepada Allah.
Dengan demikian, ketaatan melaksanakan petunjuk-petunjuk Allah itu akan diliputi rasa ikhlas, rela, puas, dan mantap. Oleh karenanya, beribadah kepada Allah yang menjadi fungsi diciptakannya manusia itu mempunyai arti yang menyeluruh, mencakup semua tindakan, perbuatan dan sikap hidup manusia dunia, baik terhadap Allah dalam kedudukannya sebagai makhluk-Nya, terhadap masyarakat dalam kedudukannya sebagai anggota masyarakat, terhadap alam dalam kedudukannya sebagai penghuni dan yang memperoleh bahan-bahan hidup dari alam sekitarnya, ataupun terhadap diri sendiri dalam kedudukannya sebagai individu yang berpirbadi mandiri.
Islam yang merupakan agama rahmat bagi semesta alam itu memberi tempat kepada manusia dalam kedudukan sebaik-baiknya. Sebagaimana dinyatakan dalam QS Al Isra (17): 70 yang mengajarkan, “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak cucu Adam. Kami beri mereka kemampuan untuk memperoleh penghidupan di darat maupun di lautan.kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Sebagai agama rahmat bagi semesta alam, Islam memberikan pedoman hidup kepada manusia sesuai dengan pembawaan kodrat kejadian manusia. Hal-hal yang memang di luar kemampuan manusia untuk mendapatkan dengan akal budinya secara tepat, diajarkan dengan perantaraan wahyu yang dibawakan oleh para Rasul-Nya. Misalnya, untuk mendapatkan siapa yang sebenarnya berhak diyakini sebagai Tuhan, diajarkan dengan amat jelas sebab akal budi manusia tidak mampu menemukan siapa TUhan yang sebenarnya itu. Untuk menghindarkan keraguan terhadap siapa yang sebenarnya berhak diyakini sebagai Tuhan itu, Islam menunjukkan kekeliruan-kekeliruan berbagai macam konsepsi ketuhanan yang dianut manusia dalam sejarah, sejak dahulu sampai diturunkannya Alquran. Untuk menjaga jangan sampai terjadi penyimpangan terhadap ajaran tauhid, segala jalan kea rah kemusyrikan ditutup rapat.
Kecuali mengenai siapa yang sebenarnya berhak diyakini sebagai Tuhan, cara melakukan ibadah kepada Tuhan pun diajarkan dengan amat jelas. Dalam hal beibadah kepada Tuhan yang sifatnya khusus, jika manusia dibiarkan mencari jalan sendiri dengan akan budinya, niscaya akan terjadi berbagai bentuk ibadah, yang masing-masing merasa bahwa cara yang dilakukannya adalah yang lebih tepat daripada cara lain. Atau apabila terjadi rasa toleransi yang tebal, mungkin orang akan menganggap semua cara beribadah yang beraneka ragam itu benar semua. Untuk menghindari hal-hal seperti itulah ibadah diajarkan dengan ama t jelas dan sifatnya mutlak.
Nilai-nilai akhlak diajarkan bersifat universal agar manusia tidak mengalami keguncangan dalam hidupnya, sebagai akibat adanya nilai-nilai akhlak yang relative dan situasional, karena merupakan ciptakan akal budi manusia sendiri.

Dalam bidang muamalat, hanya beberapa yang berupa ajaran universal dan terperinci, kebanyakan berupa garis-garis besar yang umum, yang perinciannya dapat mengalami variasi-variasi, disesuaikan dengan kebutuhan hidup manusia yang makin hari makin bertambah komplek. Hal yang disebutkan terakhir pada umumnya menyangkut masalah keduniaan, yang realisasinya diserahkan kepada pemikiran manusai sendiri, selagi manusia masih tetap berpedoman pada prinsip umum sebagaimana digarisakan dalam Alquran dan Sunah Rasul. Hadis Nabi Riwayat Muslim mengjarkan, “Kau lebih mengetahui urusan keduniaanmu, ” meskipun hadis ini semula tertuju pada pengolahan alam (mengawinkan buah kurma).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: