IMM Fakultas Agama Islam UAD

Melawan Kapitalisme Sebagian dari Iman

Sedikit Pengalaman Pasar Kotagede…

Posted by immfaiuad pada Januari 9, 2008

   Tadi siang sekitar jam 11-an saya bersama seorang teman pergi ke pasar Kotagede, salah satu pasar yang ada di Kota Yogyakarta yang juga bila kita ke bergera ke utara jalan dari simpang tiga di sisi timur laut jalan kita akan menemui banyak toko yang menjual hasil kerajinan perak (saya pernah mendengar dari sepupu kalau daerah ini jug dikenal dengan julukan “Kota Perak”) . Saya menjumpai fenomena yang lagi-lagi terjadi ketika saya ke sana, kemacetan di jalan  sekitar pasar tersebut, apalagi jalan yang berada di sebelah utara pasar.  Arus kendaraan bermotor yang ramai hilir mudik di sepanjang jalan cukup mengganggu kenyamanan. Ditambah lagi dengan suara klakson yang tidak henti-hentinya dibunyikan oleh pengendara yang mungkin berpikir mereka sibuk dan terburu-buru sehingga mereka lebih pantas didahulukan.

    Memang hal ini kemudian menjadi permasalahan yang sudah dianggap biasa oleh masyarakat jogja, lebar jalan yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan bermotor membuat jantung terus berdegup ketika berada di jalan karena potensi kecelakaan dalam keadaan seperti ini cukup besar. belum lagi ditambah dengan rasa egoisme pengendara yang terkadang seenaknya saja memotong dan bila hampir bertabrakan tidak pernah mau disalahkan.

    yah…itulah sisi lain dari kota jogja, terkadang keramahan kota ini menjadi ternoda hanya karena ulah individualistik beberapa oknum saja.

    Seperti yang telah saya ceritakan di atas,  kendaraan yang sangat ramai di pasar ini, membuat jalan terasa sangat sempit. walaupun hal ini mungkin hanya terjadi ketika pasaran (di pasar ini pasaran setiap Legi). kemungkinan kecelakaan mungkin cukup minim, namun lebih dari itu keadaan seperti ini jelas mengganggu kenyamanan. Terkadang ada makian, suara klakson yang bising, erangan sepeda motor yang memekakkan telinga, semua ini benar-benar membuat kita merasa tidak nyaman.

   Ada juga penjual Burung yang berjejer di sisi utara  sampai barat pasar, yang jelas mengurangi lebarnya jalan. keadaan ini tidak hanya terjadi di sisi utara jalan, tapi di jalan yang mengelilingi pasar.  di sebelah selatan dan timur pasar para pembeli dan pengendara motor harus berbaur di dalam jalan yang sama, sebuah keadaan yang menurut saya tidak harus terjadi.

   Apakah hal seperti ini akan kita biarkan begitu saja?,  ketidaktertiban berlalu lintas yang kita temui di mana-mana seperti halnya pasar ini? bahkan keadaannya mungkin lebih parah lagi (Jakarta contohnya). apapun jawabannya itu semua tergantung dari pengguna jalan. Kalau kita menganggap hal itu biasa, yah tidak masalah (kalau menurut saya sebenarnya inilah masalahnya). Tapi apa kita yakin? kita masih dapat menolerir keadaan ini? Sampai kapan? Sampai kita bosan dengan ketidaknyamanan yang terjadi?. (BS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: