IMM Fakultas Agama Islam UAD

Melawan Kapitalisme Sebagian dari Iman

Kritik Islam Terhadap Kapitalisme dan Sosialisme

Posted by immfaiuad pada Januari 5, 2008

(Simpulan Sederhana dari Sebuah Tema dalam Buku “Wawasan Islam” Karya M. Amien Rais)

   Dunia pada masa pasca-Perang Dunia II menyaksikan kompetisi dua sistem sosial-ekonomi, yaitu kapitalisme dan sosialisme. Dunia Islam menyaksikan hal itu dengan rasa inferior, seolah-olah tidak ada alternatif lain kecuali dua sistem tersebut. Sebagian penguasa negeri Islam seperti Suriah, Irak, Aljazair, serta Libya menganut sosialisme. Di lain pihak, negara-negara seperti Iran di zaman Syah, Saudi Arabia, Yordania, dan Maroko, misalnya, secara diam-diam, menerapkan kurang-lebih kapitalisme, atau barangkali lebih tepat “sistem ekonomi komprador” yang melayani kepentingan kapitalisme di pusat-pusat metropolis.
    Namun dewasa ini muncul kesadaran baru yang cukup kuat di kalangan kaum Muslimin di dunia ahwa sosialisme maupun kapitalisme ternyata tidak dapat membawa negeri-negeri Muslim ke arah kesejahteraan dan keadilan sosial-ekonomi. Memang janggal, sementara orang modern dapat melakukan inovasi di beberapa bidang, tetapi di bidang ekonomi seolah-olah tidak dapat melihat horison lain kecuali kapitalisme dan sosialisme.
   Kapitalisme hanyalah “hasil sampingan” dari filsafat politik yang bernama liberalisme. Semangat liberalisme mengajarkan bahwa pada dasarnya manusia sama sekali tidak jahat, dan sejarah manusia dapat disimpulkan sebagai sejarah kemajuan yang menuju kepada suatu tatanan rasional dalam kehidupan, sehinga tuntutan spiritual dari lembaga agama apa pun tidak lagi diperlukan.
   Filsafat politik liberalisme, dengan didorong rasionalisme yang menerangkan bahwa rasio manusia dapat menerangkan segala hal di dunia ini secara komprehensif dan tuntas, kemudian melahikan kapitalisme.
   Sesuai dengan prinsip laissez faire, laissez passer, mekanisme pasar yang terdiri atas penawaran dan permintaan (supply and demand) akan mengatur kegiatan ekonomi masyarakat secara sebaik-baiknya. Tangan yang tidak kelihatan dalam mekanisme pasar iu akan mengatur kegiatan ekonomi secara paling rasional, dan karena itu dapat menciptakan kemakmuran sebesar-besarnya bagi masyarakat.
   Tetapi ternyata kapitalisme justru menimbulkan suatu masyarakat yang sangat tidak egalitarian, dan menciptakan kesengsaraan bagi masyarakat banyak, di samping munculnya keserakahan pendukung kapitalisme serta individualisme yang menyebabkan alienasi.
Sebagai antitesis muncul marxisme pada abad ke-1

Kritik Terhadap Kapitalisme
   Setiap sistem yang pada dasarnya kapitalistis mengandung beberapa kelemahan.
1. Kapitalisme melahirkan kesenjangan ekonomi. Kapitalisme memang dapat mendorong produktiitas yang tinggi, tetapi tidak dapat menghilangkan ketimpangan.
2. Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang bersifat internasional, jadi tidak dapat berdiri sendiri dalam suatu negara tertentu. Kapitalisme hanya dapat mempertahankan hidupnya lewat eksploitasi yang dilakukan atas dunia ketiga.
3. Kekuatan-kekuatan kapitalis selalu bersikap double-standard
4. Kapitalisme secara teoritis memberi kesempatan sama kepada setiap anggota masyarakat, dalam kenyataannya bersifat diskriminatif, bahkan rasis.
5. Kapitalisme mengakibatkan keserakahan dan berkembangnya kehidupan yang materialistis.
6. Kapitalisme menubuhkan pola hidup yang konsumeristis.
7. Kapitalisme menimbulkan gejala-gejala alienasi dan anomi dalam masyarakat.
Bila kita menggunakan etika Alquran dalam menyoroti kapitalisme, tujuh kelemahan tersebut menjadi sangat terang dalam penglhiatan kita.

Kritik Terhadap Sosialisme
   Sosialisme dianggap dapat mengatasi kelemahan-kelemahan kapitalisme, sementara dari segi pertumbuhan industrialisasi, sosialisme tidak saja diyakini akan melakukan cath-up terhadap kapitalisme, melainkan juga akan mengubur kapitalisme yang penuh dengan kontradiksi internal untuk selama-lamanya. Namun, kelemahan sosialisme menjadi terlalu jelas dalam perjalanan waktu.
Beberapa kelemahan itu:
1. Sosialisme hanya dapat ditegakkan dengan sistem ekonomi yang otoriter, atau bahkan totaliter.
2. Dalam praktiknya, sistem ekonomi sosialisme-marxis menunjukkan suatu kontradiksi fundamental.
3. Sosialisme pada dasarnya mematikan kreatifitas manusia.
4. Penguasa akan cenderung melakukan korupsi tanpa pengawasan ketat dari rakyat.
5. Sosialisme melihat manusia selalu berdasarkan kelasnya.
6. Penurunan derajat manusia dalam banyak hal.
   Bila kapitalisme bermaksud mengembalikan hak-hak individual dan memberikan kebebasan dalam hidupnya, maka sosialisme menginginkan pembebasan kelas pekerja dari eksploitasi yang opresif.

6 Tanggapan to “Kritik Islam Terhadap Kapitalisme dan Sosialisme”

  1. fie said

    kok cuman simpulannya doang!kasih analisis dong…katanya pinter berwacana..
    Tapi lumayan juga, banyak perubahan ye..sekarang..ga cuman ngomongin Muhammadiyah thok!
    Semangat deh!FASTABIQUL KHAIRAT…

  2. qahar said

    Menarik.. kalo boleh sedikit saya tambahkan, liberalisme di akhir abad ini justru mengalami unsecurity ontological. Disanalah seharusnya Islam berposisi sebagai basis ontologi. Bukan secara via a vis mengislamkan cabang-cabang ilmu pengetahuan, bila basis ontologinya tetap positivism.
    Akan lebih menarik bila tulisan di atas, dilanjutkan dengan apa yang ditawarkan Islam mengatasi dua oposisi tersebut? Diangkat dalam diskusi di kalangan rekan-rekan, kemudian sampaikan bahwa menurut hasil diskusi yang dilakukan hasilnya seperti ini…
    Abadi Perjuangan!!

  3. immfaiuad said

    Mas Qahar,
    mungkin Panjenengan bisa menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud tentang unsecurity ontological tersebut?

  4. qahar said

    Arti secara bahasa, unsecurity ontological lebih tepat untuk dikatakan sebagai Kegamangan Ontologis.
    Sepaham saya, Islam menganjurkan kerja keras dalam hal ekonomi (-dan bidang lain tentunya-) seperti halnya tesis weber tentang Protestan Ethic. Tapi, Islam tidak semata-mata bekerja keras adalah Ibadah. Ia juga tanggung jawab sosial. Seperti halnya -salah satu- dalam Qur’an surat Al-Maun yang menyampaikan bahwa termasuk mendustakan agama yang tidak menyantuni anak yatim dan menganjurkan memberi makan fakir miskin.
    Masyarakat dalam kapitalis dan sosialis seperti kritik tulisan diatas, tidak memiliki kontrol ontologis-normatif. Ukuran ideal ditentukan oleh pemikiran manusia, dan akhirnya.. dua paham mendunia yang berada pada posisi biner tersebut sebenarnya sama-sama merugikan manusia.
    Hanya mengislamkan cabang-cabang ilmu, dengan mencari dalil Qur’an dan Sunnah pada basis ontologis positivis hanya akan memberikan label saja. Saya termasuk sepakat, bahwa dalam hal ilmu tidak ada yang Islam atau kafir. Tapi ontologis-nya yang menentukan “kearifan” ilmu pengetahuan.
    Sampai saat ini saya masih berpandangan bila semua umat muslim di satu sisi mencari uang sebanyak-banyaknya, tapi tidak segan untuk bersedekah juga sebanyak-banyak. Saya masih ingat bahkan Rasul menegur sahabat yang ingin mensedekahkan seluruh hartanya, dan menganjurkan untuk sepertiganya saja. Batas zakat 2,5% bagi saya adalah batas minimal dan maksimalnya ialah sepertiganya. Seperti halnya banyak negara muslim berkembang yang beraliran Syi’ah, ulama mereka berani menetapkan wajib zakat hingga 20% untuk kemudian disalurkan pada pos-pos penting. Buku Bambang Setiaji dengan judul Kebijakan Publik di Negara Muslim akan memberikan penjelasan lebih jauh mengenai bagaimana peran ulama dalam fatwa mengenai ini dapat mempengaruhi kebijakan negara dalam meningkatkan kebijakan publik terkait anggaran pendidikan, kesehatan dsb.
    Wallahu A’lamu bi Shawab.

  5. Sorryman said

    Kapitalisme memang memiliki beberapa kelemahan, tetapi sistem kapitalisme telah menunjukan keunggulannya dengan majunya perekonomian di berbagai negara seperti Korea Selatan, Jepang, Hongkong, AS, Jerman, Perancis dan lainnya. Akan tetapi sistem ini menurut saya tidak dapat diterapkan diberbagai negara terutama di Indonesia karena Indonesia belum siap menghadapi era globalisasi. Apabila perdagangan bebas dibuka lebar-lebar maka yang terjadi adalah hancurnya perekonomian negara disebabkan oleh produk-produk dalam negeri tidak dapat bersaing dengan produk dan inovasi luar negeri.. ditambah lagi oleh sebagian besar masyarakat yang kurang mencintai produk dalam negeri…

  6. immfaiuad said

    Terima kasih atas komentarnya, mas Sorryman.

    Secara teori, kapitalisme tidak dapat menyejahterakan seluruh rakyatnya, terlebih secara praktik. Insya Allah, jika sebuah negara menerapkan sistem kapitalisme, akan ada kesenjangan yang jauh antar-rakyat.

    Jika kapitalisme bisa diterapkan di Amerika, tentu bisa juga diterapkan di Indonesia. Masalahnya adalah apakah kapitalisme cocok diterapkan untuk makhluk bernama manusia? Saya pikir tidak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: