IMM Fakultas Agama Islam UAD

Melawan Kapitalisme Sebagian dari Iman

Hari Raya Kita Beda Lagi (Sedikit Celotehan)

Posted by immfaiuad pada Desember 20, 2007

Sampai hari ini, dunia Islam masih harus menyaksikan perbedaan hari perayaan hari-hari besar umat Islam: Ramadan, Idul fitri, Idul Adha. Bagaimanapun orang-orang tidak mempermasalahkannya, perbedaan itu tetap saja menyisakan adalah masalah serta sedikit banyak menimbulkan masalah pula.

Salah seorang kaum muslimin yang sempatberbincang dengan kami terlihat cukup sedih ketika menyatakan tidak serunya lebaran kali itu (Idul Fitri 1428 H) karena sebagian anggota keluarga besarnya merayakan Idul Fitri lebih awal dari yang lain, yang lain lebih belakangan dari yang awal. “Tidak kompak,” katanya kurang lebih.

Perasaan serupa juga mungkin terjadi pada banyak kaum muslimin yang lain; dinyatakan ataupun tidak.

Sekarang, Idul Adha 1428 H juga terjadi perbedaan. Di Inonesia, mayoritas kaum Muslimin merayakan Idul Adha pada hari Kamis, 20 Desember 2007. Puasa Arafah di Indonesia dilaksanakan selang sehari setelah pelaksanaan wukuf di Arafah. Artinya, kaum muslimin Indonesia berpuasa arafah ketika jamaah haji sudah berada di Mina.

Sebagian muslim Indonesia yang lain merayakan Idul Adha pada hari Rabu, 19 Desember 2007. Di antara yang shalat Idul Fitri lebih awal dari umumnya orang Indonesia ini adalah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Tafsir Alquran (MTA), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan mungkin masih ada yang lain.

Bahkan ada pula sebagian tarekat Naqsyabandiyah yang merayakan Idul Adha hari Selasa, 18 Desember 2007. Kelompok terakhir ini, selain kecil, landasan yang dipakai pun tidak jelas.

Kelompok yang berhari raya Rabu menyatakan bahwa melaksanakan hari raya Idul Adha dengan merujuk kepada pelaksanaan haji di Makkah telah menjadi kesepakatan kaum muslimin.

Seorang mahasiswa asal Mesir di Indonesia, yang melaksanakan Idul Adha hari Rabu nyeletuk bahwa Indonesia berhari raya Kamis karena Indonesia punya Ka’bah sendiri di Jakarta. “Ada haji di Jakarta,” katanya.

Kelompok yang berhari raya Kamis menyerang kelompok yang berhari raya Rabu dengan menyatakan mereka menyelisihi ilmu pengetahuan. Secara astronomis, tidak mungkin hari Ahad dua pekan yang lalu sudah masuk awal bulan Dzulhijjah. Minus-nya masih terlalu banyak sehingga tanggal satu jatuh pada hari Senin, sedangkan tanggal sepuluh hari Kamis, bukan Rabu. Ahli hisab Timur Tengah pun menyatakan hal serupa.

Lalu mengapa pemerintah penguasa Haramain menetapkan hari Selasa sebagai hari wukuf di Arafah dan Idul Adha hari Kamis? Pemerintah Arab Saudi lebih memedomani rukyat ketimbang hisab. Ketika ada satu atau dua orang saksi tsiqah yang menyatakan melihat hilal pada hari Ahad, maka itu dapat menjadi pedoman untuk menyelenggarakan wukuf pada hari Selasa delapan hari kemudian.

Masalahnya, ada kecurigaan, pemerintah Arab Saudi memolitisasi hari raya. Misalnya pernah suatu ketika Arab Saudi menghendaki haji pada tahun itu adalah haji akbar sehingga dijatuhkanlah wukuf pada hari Jumat. Meskipun kebenaran berita itu harus ditabayun, silang sengketa ini terlihat melibatkan rukyat, hisab, dan poltik jadinya.

Seorang Ustadz di sebuah milis menyatakan keheranannya setelah melakukan sedikit pencermatan tentang rukyat dan hisab ini. Ada puluhan (ratusan?) saksi mata dari seluruh penjuru dunia yang menyatakan melihat hilal misalnya. Di saat yang sama puluhan ilmuwan hisab menyatakan kemustahilan hilal sudah muncul apalagi bisa dilihat. Siapa yang benar? Tidak mungkin kedua kubu itu benar semua.

Puluhan ahli hisabkah yang salah membuat rumus, kurang cermat menghitung? Ataukah ratusan pengamat yang salah melihat hilal, keliru melihat benda langit yang lain?

Khusus dalam kasus Idul Adha, masalahnya adalah dalam tradisi kaum Muslimin tidak terdengar perbedaan pendapat tentang siapa yang dapat dijadikan rujukan, yaitu rukyat penduduk Makkah. Jika kita pernah mengenal istilah perbedaan mathla’ yang diintrodusir oleh madzhab Syafi’i sehinga membolehkan berbedanya rukyat suatu daerah dengan daerah lain, itu hanya dalam kasus Ramadhan dan Idul Fitri. Sedangkan Idul Adha, kaum Muslimin tidak pernah berbeda hari dalam merayakannya kecuali akhr-akhir ini saja.

Orang awam yang mencermati perbedaan pendapat ini tentu saja akan bingung. Jangankan mereka, para intelektual pun ternyata sama. Adakah jalan untuk menyatukan? Apakah kembali kepada Alquran dan Sunnah bukan jalan menyelesaikan masalah? Ayolah… tutup dulu fatwa bahwa perbedaan adalah rahmat. Apakah kita tidak rindu mnggemakan takbir bersama-sama? Umat ini merindukan persatuan. Yah, setidaknya dalam perayaan hari-hari besar yang menuntut peyelenggaran ibadah secara massal dan merupakan syiar terbesar.

Wallâhu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: