IMM Fakultas Agama Islam UAD

Melawan Kapitalisme Sebagian dari Iman

Hakikat Pendidikan

Posted by immfaiuad pada Desember 18, 2007

Hakikat Pendidikan[1]

 

Oleh: Bayu Satria[2]

 

 

Tumbuhan tumbuh besar dengan pengolahan, maka manusia tumbuh dengan pendidikan. Kita semua lahir dalam keadaan lemah, dan kita butuh kekuatan; Kita semua terlahir tanpa apa-apa, dan kita butuh pertolongan; kita terlahir bodoh dan kita butuh pertimbangan. Apapun yang tidak kita miliki ketika kita lahir dan apapun yang kita butuhkan ketika kita tumbuh diberikan oleh pendidikan (J.J. Rosseau, dalam Emile)

 

Satu hal yang harus diakui bahwa ilmu pengetahuan telah menjadi mitos baru di dalam kehidupan manusia. Prinsip bebas kepentingan, tidak berpihak, dan netral. yang dianut oleh ilmu pengetahuan justru meletakkan posisinya dalam keadaan yang rawan kepentingan. Secara tidak sadar manusia telah menjadi tidak kritis terhadapadirinya sendiri dan perkembangan kehidupan manusia. Ardono dan Horkheimer, 2 orang filsuf mazhab Frankfurt generasi pertama, berpendapat bahwa rasionalitas tujuan telah menjadikan manusia tidak rasional[3]. Tujuan telah dimanipulasi sedemikian rupa akan dianggap rasional. Lalu muncul berbagai macam takhayul yang dianggap logis tentang masa depan yang cerah. Sebagai contoh : kecenderungan di perguruan tinggi untuk menerima begitu saja teori-teori yang diajukan dengan anggapan teori-teori tersebut akan membantu mahasiswa dalam mencapai kehidupan yang lebih maju di masa depan.

 

Sebuah teka-teki yang lebih pantas dianggap sebagai lelucon, kenapa 1 + 1 = 2? Bisa saja jawabannya karena 1 = ½ + ½ , jadi akan ada ½ yang berjumlah 4, maka ½ x 4 = 2. itu ada cara lain. Mungkin akan ada yang menjawab, :coba kita analogikan jumalah jari di tangan dengan fenomena itu, jari telunjuk berjumlah 1, jari tengah berjumlah 1, gabungkan, maka akan jadi 2. yang jadi pertanyaan, bahwa sebenarnya pertanyaannya tidak sesederhana itu. Kenapa tidak 1 +1 sama dengan 3?, kenapa harus 1?

 

Bukan berarti kita ingin mengatakan bahwa hasil itu tidak absah, namun perlunya kekritisan merupakan syarat yang mutlak untuk itu. Agar kita tidak terjebak dengan apa yang terjadi pada saat ini.

 

Manusia pada saat menyangka bahwa mereka telah memberikan konstribusi yang sangat besar bagi peradaban dunia. Apakah peradaban berarti boleh merusak keseimbangan alam. Penemuan-penemuan baru justru sebenarnya memperkokoh dominasi ilmu pengetahuan untuk menjadi sistem monopolistik. Paradigma ini tentunya diacu dari paradigma positivistik yang jelas-jelas mengacaukan fungsi metafisika. Sehingga apa yang terlihat secara lahiriah, secara harfiah itulah yang harus diyakini. Bukan berarti, ilmu pengetahuan tidak dapat dijadikan pedoman untuk memperoleh tatanan dunia yang lebih baik. Namun harus ada keseimbangan dengan paradigma lain yang juga ikut menentukan kemajuan dunia.

 

Kita mungkin tidak perlu lebih jauh berbicara tentang positivistik, karena kita sedang berbicara tentang pendidikan, tepatnya filsafat pendidikan. Tapi pengantar awal tentang mitos ilmu pengetahuan akan menjadi apologi saya untuk mengkrtik habis-habisan ilmu pengetahuan (terutama dalam aplikasinya). Sebab ketika ilmu pengetahuan telah menjadi sistem yang sangat kokoh, mau tidak mau dia akan mempengaruhi aspek terpenting di dalam superstruktur global, pendidikan. Di dalam makalah ini saya tidak akan berpanjang lebar untuk membahas semua kepayahan yang terjadi akibat proses dogmatisasi ilmu pengetahuan menjadi agama. Agama di sini dalam pandangan saya karena Agama merupakan sistem keyakinan, dari ini saya mengambil persamaan untuk sistem yang diciptakan oleh paradigma positivistik. Mungkin saya akan sedikit berbicara tentang pandangan saya sendiri tentang hakikat pendidikan, yang jelas ditopang oleh pendapat-pendapat beberapa filsuf mengenai pendidikan

 

Dalam hal ini saya tidak membedakan antara filsafat dan pendidikan. Filsafat adalah pendidikan, pendidikan adalah filsafat. Tapi bukan dalam arti sama dengan, hanya identik, hampir sama dengan. Geof Husserlhorf [4] mengatakan bahwa prinsip dasar pendidikan adalah memahamkan makna kebenaran pada diri seseorang, prinsip dasar filsafat adalah untuk menyadari bahwa semua kebenaran berasal dari realitas. Lebih jauh ia mengatakan bahwa filsafat pendidikan harus berdiri atas dasar kebenaran yang ada. Dalam makna ini saya tidak mengatakan bahwa filsafat yang saya gunakan pada kalimat pertama sama dengan kata filsafat pada filsafat pendidikan. Filsafat yang saya gunakan merupakan sebuah usaha pencarian kebenaran, melalui berbagai pertanyaan, untuk melihat apa yang ada di bawah permukaan dan ungkapan rasa ketakjuban yang mendalam yang dimanifetasikan dalam bentuk perenungan.[5] Sedangkan frase filsafat pendidikan mengacu pada defenisi “studi mengenai tujuan, proses, hakikat dan ideal dari pendidikan. Pembahasannya bisa mengenai pendidikan sebagai institusi sosial ataupun secara luas sebagai proses menumbuhkan eksistensi manusia. Sebagai contoh bagaimana pemahaman kita mengenai dunia secara berkesianmbungan bertranformasi Melalui pengalaman fisis, emosional, kognitif, dan transendental.”[6]

 

Saya juga tidak terlalu mengacu pada filsafat pendidikan yang dianut UU 20/2003, bahwa pendidikan dipandang sebagai usaha sadar dan terencana untuk terciptanya proses pembelajaran yang memandang peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya. Karena batasan pendidikan di sini diletakkan sebagai keseluruhan proses pembangunan eksistensi manusia.

 

Hal ini senada dengan apa yang telah diungkapkan oleh J.J. Rosseau, bahwa apa saja yang tidak kita miliki ketika lahir, dan apa saja yang kita butuh ketika kita tumbuh, diberikan oleh pendidikan. Hal ini dapat berarti bahwa pendidikan jelas merupakan seluruh hidup manusia, long life education. begitu semboyan yang pernah di dengungkan dengan gencar oleh pemerintah. Jika memang pendidikan merupakan proses yang berlansung di keseluruhan hidup kita, kita mungkin mampu mempertimbangkan kata-kata De Montaigne mengenai pendidikan “Since philosophy is the art which teaches us how to live, and since children need to learn it as much as we do at other ages, why do we not instruct them in it?”.[7] Kenapa kita tidak berusaha memberikan pendidikan filsafat sejak kecil? Begitulah mungkin yang ingin dikatakan oleh filsuf ini.

 

Tentunya pandangan ini harus berdasar. Salah satu aspek filsafat adalah kritis. Louis. O Katsof, mengatakan bahwa para filsuf sering kelihatan untuk menghancurkan sesuatu daripada berusaha untuk membangun[8]. Sebab mereka selalu mempertanyakan segala sesuatu. Tapi ada baiknya jika kita menyebutkan makna tersirat yang ada di dalam karya Plato, Apology. Dalam karya tersebut diceritakan seorang teman Socrates, Chaeferon, bertanya kepada peramal delfi, “apakah ada orang yang lebih bijaksana daripada Sokrates?, peramal itu menjawab, Tidak! Sokrates mendengar pernyataan itu dan dia berpikir, bahwa dia sama sekali tidak alim, lalu dimulailah dilalektikanya dengan banyak orang. Dan pada perjalanannya sokrates ternyata selalu menang di dalam setiap diskusi. Lawan bicaranya selalu kewalahan menjawab pertanyaannya.jika kiita menganggap ini sebagai mitos jelas bahwa ada makna spiritual yang ingin diungkapkan di dalam kisah ini. Makna bahwa tuhanlah yang maha tahu, manusia tidak memiliki pengetahuan apa-apa.[9]

 

Kembali kepada Geof Husserlhurf, dia menyatakan bahwa dia setuju dengan anggapan Einstein bahwa fungsi pendidikan paling tidak ada 2 [10]:

 

1. mendidik seseorang sebagai individu yang bebas, dalam usaha memahami dan menggunakan kemampuan berpikir kritis untuk membatasi kebenaran bagi dirinya sendiri.

 

2. mendidik seseorang sebagai bagian dari masyarakat

 

Pernyataan pertama sudah cukup kiranya untuk menopang pemikiran saya bahwa filsafat adalah pendidikan, begitu pula sebaliknya. Sedangkan yang kedua, antonio Gramsci pun berkata begitu, walaupun dengan ideologi marxist yang sangat kental dengan paradigma kerja. Yang menarik mungkin konsep dari Charles S. Peirce, mengenai falibilisme.[11] Dia berpendapat bahwa kebenaran hanya dapat dibuktikan jika seseorang sudah berdialektika dengan seseorang. Sebab dia mengatakan bahwa ide-ide di dalam diri manusia bisa jadi salah dan parsial, untuk itu kita butuh komunitas yang lebih tahu untuk menolong kita dalam usaha memahami dengan benar apa yang kita tahu. Saya sendiri mengatakan bahwa saya tidak begitu setuju dengan pandangan ini. Namun hal ini mungkin sudah memasuki wilayah epistemologi, sehingga tidak layak untuk diuraikan di sini.

 


 

[1] Sebagai salah satu persyratan mengikuti LID

 

[2] penulis merupakan Ketua Komisariat IMM FAI UAD

 

[3] lihat “Kritik Ideologi” membahas kepentingan ilmu pengetahuan bersama Jurgen Habermas, Bab II

 

[4] lihat http://www.spaceandmotion.com/PhilosophyEducation.htm

 

[5] lihat “Pohon Filsafat” , Stephen Palmquist, bab I

 

[6] en.wikipedia.org/wiki/Philosophy_of_education

 

[7] http://www.spaceandmotion.com/PhilosophyEducation.htm

 

[8] lihat Louis O. Katsoff , “Pengantar Filsafat” bab I

 

[9] Palmquist, op.cit. bab III

 

[10] http://www.spaceandmotion.com/PhilosophyEducation.htm

 

[11] http://www.bu.edu/wcp/Papers/Educ/EducThay.htm

Satu Tanggapan to “Hakikat Pendidikan”

  1. Merapendra said

    GENERE CAFE
    CAFE PUSTAKA

    Untuk Pertama kalinya, kami undang untuk berkunjung ke sebuah Cafe Pustaka. Berkunjunglah ke Cafe kami.

    Kunjungi kami di :

    http://generecafe.blogspot.com.

    Sebuah Ruang Pustaka yang kami suguhkan bagi para pengunjung setia penikmat Blogger di Seluruh Indonesia.

    Simpanlah undangan kami ini, apabila suatu saat nanti anda membutuhkan sebuah Cafe Pustaka sebagai bahan refrensi anda.

    Hormat kami,

    Genere Cafe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: