IMM Fakultas Agama Islam UAD

Melawan Kapitalisme Sebagian dari Iman

Belajar yang Manusiawi

Posted by immfaiuad pada Desember 18, 2007

Belajar Yang Manusiawi

 

Oleh : Bayu Satria*

 

 

Bagi banyak pemikir, kehidupan sesungguhnya adalah belajar. Dari pelajaran itulah kita akan menemukan sebuah perubahan yang berarti pada diri yang disebut revolusi. Namun pada kenyataanya ketika revolusi industri terjadi di Inggris, pembelajaran telah menjadi hal yang sangat membosankan, menakutkan, indiviualistis, dan pragmatis. Sekolah dan universitas telah dikotak-kotakkan menurut bidang-bidang tertentu, orientasi dari hasil belajar hanyalah industri. Belajar dilakukan mnegikuti model pabrik, dengan pola pengajaran yang satu arah, dogmatis dan doktriner, serta terpusat. Semua yang dipelajari dari guru maupun dosen adalah yang terbaik. Maka benarlah hasil yang didapatkan dari pembelajaran tersebut. Generasi yang terbentuk adalah generasi robot, tidak punya perasaan, daya saing yang tinggi, semangat kritis yang lemah, dan bekerja berdasarkan program.

 

Ironisnya gaya pendidikan Indonesia sampai saat ini masih saja seperti itu. Tipe kolonialis, begitu seorang penulis menyebutnya. Anak-anak dididik untuk tujuan produksi, diberi pembekalan tentang cara menjalankan alat ini, mengatur hal ini dan itu. Semuanya digunakan demi tujuan ekonomi pihak tertentu. Dengan pola pembelajaran yang seragam memaksa pembelajar untuk mengikuti apa saja mau pengajar. Pembelajar tidak pernah bisa mengeksplorasi dirinya untuk maju, standar kemajuan diri telah diukur dengan sejumlah angka-angka, jumlah kehadiran atau nilai-nilai yang kemudian menjadi pedoman yang berarti untuk menilai prestasi.

 

Lantas dimanakah esensi sila kedua, kemanusiaan yang adil beradab, jika ternyata sistem pendidikan sudah tidak manusiawi? Padahal pendidikan menjadi sentral dari peradaban, berarti Indonesia telah menjadi bangsa yang tidak manusiawi. Nampaknya kita tidak perlu tergesa-gesa untuk menyimpulkan, karena penulis sendiri pun bangsa Indonesia, tapi mungkin realita sosial telah menjawab semuanya.

 

Ketidakmanusiawian itu pun tidak berbeda halnya di UAD, yang notabene masih mengikuti sistem pendidikan barat. Daya saing yang tinggi, hubungan yang tidak mesra antara dosen dan mahasiswa, kehadiran 75%, standar prestasi berasarkan IP. Dunia pendidikan telah dipisahkan dari realita sosial, maka lahirlah mahasiswa yang study oriented/mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah pulang- kuliah pulang). Mereka merupakan tipe mahasiswa yang individualis, sama sekali tidak mampu untuk bebaur dengan lingkungan sekitar bahkan lingkungan kampus sendiri. Mahasiswa yang biasanya sangat terasing dari spesiesnya sendiri, bisa saja mungkin telah menjadi bagian dari benda mati seperti buku, komputer, dan makalah. Bukan berarti ketiganya tidak perlu. Buku, komputer dan makalah tetaplah diperlukan sebagai sarana. Akan tetapi, bukan itulah satu-satunya sarana masih banyak sarana yang lain.

 

Sesuatu yang dinamakan belajar akan lebih berarti jika seseorang bisa merasakan sendiri manfaat dari yang ia pelajari. Mungkin Daniel Goleman terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa hanya 20% dari kemampuan intelengensi yang akan dipergunakan pada kehidupan sehari-hari. Semuanya bisa dipergunakan 100%, namun manusia seringkali gagal melihat sisi lain dari belajar. Ini semua muncul akibat pengkotak-kotakkan tadi. Yang berasal dari gaya pengajaran yang linier, verbal, abstrak, dan terpisah dari dunia nyata.

 

Maka kita perlu be-revolusi, menjadi manusia yang seutuhnya. Kita mungkin ingin mengubah tatanan pendidikan yang ada pada saat ini, namun sistem belum mengizinkan kita untuk melakukannya. Mahasiswa jelas belum mempunyai legitimasi apa-apa, yah, bahkan untuk berpendapat sekalipun. Maka alangkah indahnya untuk mengamankan diri untuk sementara. Bersikap sedikit realistis bukanlah sebuah masalah yang besar jika ingin tetap hidup. Bermesraan dengan sistem, seraya mencari jalan keluar lain agar kita mampu mencapai prestasi yang diinginkan oleh sistem. Walaupun pada kenyataannya kita tidak akan pernah benar-benar bermesraan dengan sistem. Terlebih lagi bagi mahasiswa yang terlibat di dalam organisasi, apakah itu intra maupun ekstra. Kita mungkin benar-benar merasa tersiksa dengan kenyataan bahwa tidak ada dipensasi tertentu bagi mahasiswa yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Parahnya, mahasiswa yang terlalu aktif di organisasi tertentu sampai jarang kuliah, maka IP bisa diramal sebelum pengeluaran KHS. Padahal, mungkin dengan nada yang sedikit emosional kita perlu mengatakan bahwa IP dan ijazah terbukti tidak akan memberikan apa-apa tanpa kesadaran emosional yang tinggi (EQ), kehadiran terbukti tidak memberikan apa-apa tanpa rasa suka untuk kuliah, dan hal ini tidak pernah benar-benar dihargai oleh kebanyakan orang yang mengakui dirinya sebagai ahli pendidikan.

 

Dengan mengikuti organisasi tertentu secara tidak lansung telah memberikan poin yang lebih bagi pembelajaran, sayangnya poin ini jarang sekali kita perhatikan. Kita seringkali menganggap keduanya berbeda. Kita masih saja mengikuti pola pemikiran ilmiah barat, semua hal telah masuk kedalam spesialisasi tertentu dan tidak pernah dianggap berhubungan sama sekali. Di dalam buku-buku pembelajaran yang dipercepat (accelerated learning) disebutkan bahwa seseorang akan mampu mengingat dengan lebih baik apabila ia merasakan langsung manfaat dari sebuah pelajaran, bagaimana kemudian sesuatu yang ia pelajari berlaku pada konteks dunia nyata. Seseorang juga akan belajar lebih banyak hal apabila dia berinteraksi dengan orang lain dan secara berkesinambungan mempertahankan hubungan tersebut. Dia akan mampu menghubung-hubungkan berbagai hal yang dipelajarinya dengan banyak bidang. Begitulah cara Einstein berpikir. Seseorang akan lebih banyak belajar jika ia mampu berinteraksi dengan baik dengan dunia di luar kampus, apakah itu realitas sosial maupun alam semesta.

 

Belajar yang manusiawi sesungguhnya merupakan hak asasi setiap manusia. Dengan belajar diharapkan seseorang akan mampu menjadi manusia yang memenuhi tiga kodratnya, sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk tuhan. Ketiga dimensi ini yang kemudian tergambar di dalam tiga bentuk kecerdasan yaitu IQ, EQ, dan SQ. Dalam konteks individu, seseorang tidak akan pernah berbuat banyak terhadap hal-hal yang bermanfaat di dalam hidupnya jika ia tidak pernah mengimplementasikannya di dalam kehidupan sosial. Kehidupan organisasi yang telah dilalui ketika menjadi mahasiswa akan lebih berarti untuk mengembangkan potensi dirinya di masyarakat. Manusia juga harus menyadari bahwa kehidupannya juga teratur karena ada yang mengatur. Tentunya kita harus menyadari bahwa banyak hal yang kita tidak mampu, namun kita sering malu untuk mengakui. Dalam hal ini terbukti bahwa manusia tetaplah menjadi makhluk Tuhan. Oleh karena itu, dengan semangat idealisme seorang mahasiswa, yang selalu ingin mengadakan perubahan yang signifikan dalam sistem, marilah kita mulai dari diri kita sendiri dahulu tanpa meninggalkan cita-cita sosial kita. Kita harus selalu mampu berinteraksi dengan berbagai pihak, membangun jaringan komunikasi yang mapan agar apa-apa yang kita cita-cita kan mampu terealisasikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: