IMM Fakultas Agama Islam UAD

Melawan Kapitalisme Sebagian dari Iman

Arsip untuk Januari, 2008

Sikap Terhadap Penguasa

Ditulis oleh immfaiuad di/pada Januari 13, 2008

(Studi Terhadap Dua Hadis dan Komprominya)
Oleh: Shofhi Amhar

A. Pendahuluan
Hadis merupakan sumber hukum kedua dalam Islam. Beberapa hadis terkadang sukar dipahami secara mandiri, terkadang juga apabila dikumpulkan beberapa hadis akan menimbulkan interpretasi yang berbeda dibanding apabila diulas secara mandiri.
Makalah ini mencoba mengulas dua buah hadis yang apabila dipahami secara mandiri tidak terlihat kemusykilan, namun bila disatukan, memerlukan interpretasi yang lebih mendalam.

B. Pemahaman Terhadap Hadis
Sebelum mengulas tentang dua hadis tentang sikap terhadap penguasa, terlebih dahulu disampaikan secara sangat singkat tentang pemahaman penulis berkenaan bagaimana memahami suatu hadis.
Hadis adalah sumber hukum Islam kedua, setelah Alquran. Meskipun bukan Firman Allah, namun hadis merupakan wahyu Allah juga. Seorang Muslim wajib menaati hadis seperti kewajibannya menaati Alquran. Sebab Allah dalam beberapa Firman-Nya di dalam Alquran menyejajarkan Nabi dengan-Nya, khususnya dalam hal ketaatan.
Karena hadis merupakan wahyu, maka mustahil antara hadis yang satu dengan hadis yang lain saling bertentangan. Karenanya apabila secara sekilas terlihat terjadi pertentangan dalam beberapa hadis, usaha serius untuk mengkompromikannya harus ditempuh. Namun karena pada umumnya hadis bernilai zhannî tsubut, maka metode tarjih mungkin dilakukan, meski tidak boleh diutamakan.
Hadis merupakan salah satu pedoman bagi kaum Muslimin. Sebagai pedoman, hadis akan dapat dipahami dengan mudah. Maka, penulis berpendirian bahwa suatu lafazh di dalam hadis pada dasarnya harus dipahami secara hakiki. Namun apabila terdapat kesulitan untuk memaknainya secara hakiki, maka suatu lafazh hadis dapat dialihkan kepada maknanya yang majazi, selama ada qarînah (indikasi) yang mengarah ke sana.
Kaidah di atas yang mencoba penulis terapkan dalam membahas dua berikut hadis berikut.

C. Hadis-Hadis Tentang Sikap Terhadap Penguasa

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ عَنْ رُزَيْقِ بْنِ حَيَّانَ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ قَرَظَةَ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ (رواه مسلم)
Terjemah matan hadis di atas kira-kira sebagai berikut:
“Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sebaik-baik Imam kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, serta mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk Imam kalian adalah yang kalian memurkai mereka dan mereka pun memurkai kalian, serta kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.’ Ditanyakan kepada Nabi: ‘Apakah kami tidak menentangnya saja dengan pedang?’ Nabi bersabda: ‘Tidak. Selama mereka masih mendirikan salat di tengah-tengah kalian. Apabila kalian melihat pada penguasanya sesuatu yang kalian membencinya, maka bencilah amalnya, dan janganlah mencabut tangan dari ketaatan’”

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ بُكَيْرٍ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ قُلْنَا أَصْلَحَكَ اللَّهُ حَدِّثْ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ (رواه البخاري
Terjemah matan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Ubâdah Ibn al-Shâmit di atas yang berkenaan dengan tema tulisan ini adalah:
“Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam mendakwahi kami, maka kemudian kami membaiat beliau. ‘Ubâdah berkata: terhadap apa yang beliau ambil dari kami dalam baiat untuk mendengar serta taat baik ketika kami semangat maupun dalam keadaan benci, dan tentang keputusan kami, serta untuk tidak mencabut urusan (kekuasaan) dari pemegangnya kecuali kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki burhân dari sisi Allâh.”

D. Pembahasan
Dua hadis di atas akan menimbulkan pemahaman yang keliru apabila tidak dipahami dengan jeli. Bisa jadi penafsiran terhadap hadis yang satu akan membatalkan bunyi hadis yang lain.
Dua hadis di atas sama-sama menunjukkan kemungkinan menentang pemerintah. Namun, kondisi yang membolehkan hal tersebut berbeda pada masing-masing hadis. Hadis pertama menyatakan bahwa menentang Imam diperbolehkan apabila para Imam tidak lagi menegakkan salat di tengah-tengah kaum Muslimin. Sedangkan hadis kedua menyatakan bahwa kekuasaan boleh dicabut dari pemegangnya apabila mereka sudah memperlihatkan kekufuran yang nyata.
Terdapat kemusykilan apabila kedua hadis tersebut dipahami apa adanya, yaitu seolah-olah kita mengandaikan seorang Imam dapat dinyatakan melakukan kekufuran yang nyata apabila dia sudah tidak melaksanakan salat. Padahal meninggalkan salat tidak dapat secara mutlak dijadikan bukti telah kufurnya seseorang.
Atau kita memahami bahwa seorang Imam belum dinyatakan kufur, selama dia masih menegakkan salat, meskipun misalnya, dia telah menunjukkan perbuatan yang nyata-nyata kufur selain salat.
Pemahaman sepeti ini harus dihindari. Sebab, kekufuran seseorang tidak dapat ditunjukkan dengan sekedar orang tersebut meninggalkan salat. Di sisi lain seseorang dapat dinyatakan sebagai kufur apabila, misalnya ia meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad -shallallâhu ‘alaihi wa sallam-, meskipun ia rutin menjalankan salat lima waktu.
Maka, lebih bijak memaknai hadis tersebut sebagai berikut:
Yang dimaksud dengan kufran bawâhan bukanlah kekufuran yang secara hakiki mengeluarkan seseorang dari millah, namun sekedar yang nampak dari seorang Imam yang tidak lagi melaksanakan kewajiban dalam menerapkan hukum Allah secara kâffah. Sedangkan yang dimaksud dengan iqâmah al-shalâh dalam hadis pertama bermakna ‘menegakkan hukum-hukum Allah’. Dengan demikian, hadis tersebut diungkapkan dalam bentuk isti’ârah mursal juz`iyyah.

Wa Allâhu A’lam bi al-Shawâb.

Ditulis dalam al-Qur'an & Hadits | Bertanda: , | 3 Komentar »

Sedikit Pengalaman Pasar Kotagede…

Ditulis oleh immfaiuad di/pada Januari 9, 2008

   Tadi siang sekitar jam 11-an saya bersama seorang teman pergi ke pasar Kotagede, salah satu pasar yang ada di Kota Yogyakarta yang juga bila kita ke bergera ke utara jalan dari simpang tiga di sisi timur laut jalan kita akan menemui banyak toko yang menjual hasil kerajinan perak (saya pernah mendengar dari sepupu kalau daerah ini jug dikenal dengan julukan “Kota Perak”) . Saya menjumpai fenomena yang lagi-lagi terjadi ketika saya ke sana, kemacetan di jalan  sekitar pasar tersebut, apalagi jalan yang berada di sebelah utara pasar.  Arus kendaraan bermotor yang ramai hilir mudik di sepanjang jalan cukup mengganggu kenyamanan. Ditambah lagi dengan suara klakson yang tidak henti-hentinya dibunyikan oleh pengendara yang mungkin berpikir mereka sibuk dan terburu-buru sehingga mereka lebih pantas didahulukan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam pantau | Bertanda: , | Leave a Comment »

Refleksi Akhir Tahun Baru Masjid Gedhe Kauman Jogjakarta

Ditulis oleh immfaiuad di/pada Januari 6, 2008

kauman-serambi.jpg

Refleksi Akhir Tahun Baru Masjid Gedhe Kauman Jogjakarta

    Seperti biasa, 31 Januari malam hari setiap tahun, ada prosesi di Masjid Gedhe Kauman yang sayang untuk dilewatkan bagi para aktivis. Begitu juga 31 Januari 2007 tadi malam, seperti biasa, ratusan jamaah memadati serambi Masjid Gedhe Kauman untuk menghadiri ceramah Refleksi Tahun 2007 dengan pembicara langganan: Amien Rais. Beliau datang sekitar jam 21.00 WIB, yang langsung memberikan pidato, setelah pembicara pertama, Dr. Muhammad, merampungkan ceramahnya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam pantau | Bertanda: | 1 Komentar »

IMM Sebagai Gerakan Mahasiswa

Ditulis oleh immfaiuad di/pada Januari 6, 2008

M Rivai Tuhuleley
(Sekbid Hikmah PC IMM Djazman Alkindi Kota Yogyakarta)

Kerja Intelektual adalah kerja seumur hidup, itu pun tidak akan pernah tuntas dan memuaskan.
(Ahmad Syafii Maarif)


    

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam organisasi | Leave a Comment »

Kritik Islam Terhadap Kapitalisme dan Sosialisme

Ditulis oleh immfaiuad di/pada Januari 5, 2008

(Simpulan Sederhana dari Sebuah Tema dalam Buku “Wawasan Islam” Karya M. Amien Rais)

   Dunia pada masa pasca-Perang Dunia II menyaksikan kompetisi dua sistem sosial-ekonomi, yaitu kapitalisme dan sosialisme. Dunia Islam menyaksikan hal itu dengan rasa inferior, seolah-olah tidak ada alternatif lain kecuali dua sistem tersebut. Sebagian penguasa negeri Islam seperti Suriah, Irak, Aljazair, serta Libya menganut sosialisme. Di lain pihak, negara-negara seperti Iran di zaman Syah, Saudi Arabia, Yordania, dan Maroko, misalnya, secara diam-diam, menerapkan kurang-lebih kapitalisme, atau barangkali lebih tepat “sistem ekonomi komprador” yang melayani kepentingan kapitalisme di pusat-pusat metropolis. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam ideologi | Bertanda: , , | 6 Komentar »